Banyak orang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana kita kan
menghadapi berbagai masalah. Entah masalah kecil yang dibesar-besarkan atau
memang masalah besar. Remaja adalah manusia yang cenderung menganggap
hal kecil menjadi sesuatu yang besar. Itu sebabnya remaja lebih rentan terkena
frustasi. Masalah keluarga, sekolah, ataupun asmara itu adalah makan
sehari-hari bagi mereka. Di otak mereka akan selalu berkutat mengenai
3 hal itu.
Itu pun yang dirasakan oleh saya dan teman-teman sekelas saya hari-hari ini,
yaitu masalah sekolah. Lebih tepatnya masalah TEMPAT DUDUK. Memang
ini masalah sepele tapi bagi kami yang notabennya adalah seorang remaja,
posisi tempat duduk sangatlah penting, karena ini akan menentukan tingkat
kenyamanan kita. Wali kelas kami mengacak urutan tempat duduk
berdasarkan kocokan dan itu artinya kami harus berpisah dengan sebangku
kami. Kami tidak bisa menerima keputusan beliau. Tetapi, kami
masih menghormati beliau sebagai guru akhirnya kami pun pindah tempat
duduk. Wajah kami tidak ada yang menunjukan kebahagiaan, kami merasa
ini suatu ‘paksaan’. Saya mengerti apa tujuan wali kelas saya untuk
mengacak bangku kami, yaitu agar kelas lebih kondusif, dan terlebih lagi
cara ini akan membuat satu sama lain lebih mudah berbaur.Tetapi, menurut
saya ini bukanlah carayang efektif agar seorang murid bisa tenang di kelas,
dan membuat mereka lebih bersosialisasi. Cara ini malah akan membuat
kami tidak nyaman, dan kami semakin tertekan. Belajar akan lebih mudah
apabila kita berada di lingkungan dan suasana yang membuat seorang
murid merasa nyaman. Jadi, apabila kondisi seperti ini kami tidak akan
mudah belajar karena rasa tidak nyaman yang kita rasakan. Masih banyak
cara yang dapat ibu tempuh agar kami bisa lebih berbaur dan kelas kami
lebih kondusif. Bukan dengan cara memisahkan kami dari sesuatu yang
membuat kami nyaman.
Masalah kekompakan itu butuh sutu proses tidak ada kekompakan yang
instan tidak ada kekompakan yang dilewati tanpa suatu proses. Dan kami
yakin suatu saat kelas kami akan melewati proses itu, hanya saja semua
harus bersabar. Dan kekondusifan suatu kelas itu berdasarkan seberapa
niat orang yang ada di kelas itu untuk belajar, jadi percuma kami dipisahkan
dari teman 'bercanda kami' tetapi niat kami belum mantap untuk belajar.
Yang terpenting pada masalah ini adalah NIAT dalam diri seseorang untuk
belajar dan diam saat pelajaran itu berlangsung.
Jadi, yang kami inginkan adalah kembalikan lah kami ke tempat semula tempat
yang membuat kami bertahan di dalam kelas itu. Biarkan lah kami yang merubah
kelas kami ini menjadi kelas yang ibu inginkan. Karena kami yakin kami pun
tidak berbeda dengan kelas yang tahun lalu. Dan kami tidak mau menjadikan
masalah ini ikut masuk ke dalam daftar masalah yang sedang kami hadapi.
No comments:
Post a Comment